Membandingkan album ini dengan satu album sebelumnya, “The Common’s Man Collapse” yang beredar di tahun 2008 sepertinya tidak begitu banyak menawar perbedaan kecuali teknik permainan mereka yang menjadi lebih berteknikal dan terkadang terdengar progressif seperti ada pengaruh MESHUGGAH. Apalagi dengan teknik permainan gitaris mereka Marc Okubo. Aku pikir Marc bukan tak mungkin menjadi orang sinting beberapa tahun kemudian. Meski bermain tunggal tapi cukup mengerikan.
Dan seperti kebanyakan band deathcore lainnya juga, VEIL OF MAYA pun menawarkan dual karakter vokal dengan scream serta growl yang ditanggungjawabi Brandon Butler secara individual.
Keunikan lain, ada beberapa lagu yang terkadang memunculkan elemen tambahan synthizer sebagai efek tambahan. Bukan sesuatu yang dominan tapi terkadang menambah kegairahan musik VEIL OF MAYA seperti di lagu keenam, ‘Resistance’.
Track instrumental ‘Martyrs’ sebagai track lima juga cukup menyita perhatian saya dan aku pikir mereka tidak memiliki ide tentang lirik dari track ini. Sangat singkat dan hanya berdurasi tak lebih dari satu setengah menit dan ini bukan satu-satunya nomor instrumental yang bisa ditemukan disini.
“[ID]” menjadi album kedua bagi vokalis Brandon Butler yang baru bergabung di tahun 2007 dimana ketika itu menggantikan posisi Adam Clemans yang memilih bergabung ke band progressive metal IRON THRONES. Dan Brandon Butler menjadi vokalis ketiga VEIL OF MAYA sedangkan bagi bassist Matt Pantelis, album ini menjadi debutnya untuk VEIL OF MAYA pasca cabut dari band deathcore lainnya, BORN OF OSIRIS tahun lalu.
Meski terbilang pendatang baru, tapi aku lebih sepakat untuk tidak meletakkan VEIL OF MAYA sebagai salah satu band bercap homo-core.
Secara keseluruhan, “[ID]” menawarkan durasi total yang tak lebih dari setengah jam dengan jumlah total sebelas track. Sebenarnya rilisan ini punya empat versi yang berbeda warna kover album dan yang aku miliki adalah album dengan seperti yang ada di gambar atas.
Secara lirik VEIL OF MAYA bukan pengusung anti agama tapi lagi-lagi aku hanya bisa menduga kalau sepertinya band ini berbicara tentang sisi kehidupan yang biasa dijalani manusia. Dengar saja ‘Namaste’ yang dibagian reff meneriakkan ‘Live together, die alone’.
Ya paling tidak album ini cocoklah sebagai salah satu bukti kalau band metal tidak melulu bicara soal anti agama atau tubuh yang terbelah. Dan untuk lirik non anti agama juga tidak harus tentang agama. Mereka memberi bukti kalau menulis lirik band metal tidak harus konsep atheist atau sebaliknya.
0 comments:
Post a Comment